Komisi Persaingan Usaha Awasi Akuisisi Uber oleh Grab

0
23
sumber : www.grab.com/id

JAKARTA, INDEPENDEN – Aksi korporasi operator transportasi online Grab mengakusisi Uber diawasi ketat oleh komisi persaingan usaha agar tidak merugikan.

Di Indonesia, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan, pengawasan ketat ini untuk memastikan persaingan di bisnis transportasi online tetap sehat.

Selain KPPU, komisi persaingan Filipina, Malaysia, dan Singapura kini tengah menyelidiki akuisisi saham Uber di Asia Tenggara oleh Grab yang dikhawatirkan berpengaruh terhadap persaingan usaha.

Akuisisi Uber oleh Grab di kawasan Asian Tenggara menjadi sorotan komisi persaingan usaha di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hilangnya Uber membuat Grab hampir tanpa pesaing di Asia Tenggara, kecuali di Indonesia yang memiliki Go-Jek, perusahaan aplikator lokal yang mampu berkompetisi.

Dampak dari akuisisi Uber oleh Grab pun membuat banyak negara di Asia Tenggara meminta Go-Jek hadir dan menahan monopoli Grab di negaranya.

“Kami berharap tetap ada kompetisi, maka KPPU akan memonitor perilaku monopolinya. Karena orang boleh melakukan monopoli, tapi jika melakukan praktik monopoli, itu yang dilarang,” kata Komisioner KPPU Saidah Sakwan di Jakarta, Senin (9/4/2018).

Jika nanti ada salah satu pemain yang bertindak monopoli, dengan memainkan harga, maka regulator akan turun tangan.

“Praktik ini yang nanti akan kami monitor dari sisi perilaku. Apakah nanti Grab berperilaku monopoli atau tidak. Karena dalam Undang Undang Persaingan Usaha tidak boleh berperilaku monopolitisik,” ujarnya.

KPPU juga mencermati proses peralihan mitra Uber ke Grab yang tidak berjalan lancar. Meski menjadi persoalan terpisah dari isu persaingan usaha, namun KPPU memiliki kewenangan untuk menjaga agar driver tidak dirugikan selaku mitra karena tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

“Kemarin ada problem saat peralihan mitra Uber ke Grab, itu memang persoalan tersendiri. Namun KPPU juga mendapat mandat untuk mengawasi program kemitraan dengan para driver tersebut. Apakah kemitraan itu adil dan sehat atau tidak, eksploitatif atau tidak. Itu jadi ‘concern’ kami,” ucapnya.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here