Jakarta, INDEPENDEN – Barbara Bush, ibu negara Amerika Serikat, sekaligus tokoh literasi, meninggal dunia di usia 92 tahun pada Selasa waktu setempat (17/4), seperti diutarakan juru bicara keluarganya, yang dikutip dari CNN.

Sebelumnya, istri mantan Presiden AS, George HW Bush dikabarkan mengalami penurunan kondisi kesehatan. Kepada CNN, sebuah sumber yang dekat dengan keluarga Bush mengatakan Barbara sudah lama berjuang melawan penyakit paru-paru kronik (COPD) dan gagal jantung kongestif (CHF). Ia juga beberapa kali keluar-masuk Rumah Sakit (RS) dalam setahun terakhir.

Barbara adalah figur politik besar saat suaminya, George HW Bush, saat menjabat jadi wakil presiden dan presiden. Dia perempuan kedua di Amerika yang suami sekaligus anaknya terpilih jadi kepala negara.

Setelah meninggalkan Gedung Putih, Barbara menjadi juru bicara andal untuk dua putranya, George W dan Jeb Bush, saat mereka berkampanye.

Ibu dari enam anak ini membesarkan keluarganya di era 1950-an dan 1960-an, di tengah kekacauan pascaperang dan dunia politik yang menyibukkan suaminya.

Dia selalu berada di samping George HW Bush sepanjang karir politiknya yang berlangsung selama hampir 30 tahun. George sempat jadi perwakilan Texas, duta besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, ketua Partai Republik, dubes untuk China dan direktur CIA.

George kemudian menjadi wakil presiden Ronald Reagan selama dua periode dan terpilih jadi orang nomor satu AS pada 1988. Dia turun jabatan 1993 setelah kalah dari Bill Clinton.

Cepat tanggap dan berkomentar pedas, Barbara Bush jadi pembela utama sekaligus penasihat suaminya. Dengan rambut putih dan perhiasan mutiara khasnya, dia dikenal sebagai tokoh publik yang bicara blak-blakan.

Sebagai ibu negara, dia mencitrakan diri sebagai istri setia dan seorang ibu. Gambaran itu kontras dari Nancy Reagan dan Hillary Clinton yang tampak sangat terlibat dalam kepresidenan Ronald Reagan dan Bill Clinton.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here