Mohamed Salah Ghaly atau yang lebih dikenal dengan Mo Salah menjadi fenomena tersendiri di jagat persepakbolaan ditahun 2018 ini. Mencetak 42 Gol dalam semusim di semua kompetisi dan juga memecahkan rekor gol semusim di liga Inggris menjadikan Mo Salah icon baru di sepak bola modern.

Low Profile, tidak banyak gaya dan juga spartan dilapangan, itulah yang terpancar dari pemain kelahiran Nagrig Mesir 26 Tahun silam. Datang ke Anfield stadium dengan penuh skeptisme dari fans Liverpool, justru membuat Mo Salah tampil agresif.

Total Gol Salah dalam semusim bahkan mampu melewati total gol yang dibuat striker fenomenal Liverpool sebelumnya Luis Suarez. Padahal posisi Salah bukanlah penyerang murni.

Dibalik gemerlap prestasi yang dituai oleh Salah, ada beberapa hal miris yang harus dialami nya dalam waktu yang hampir bersamaan. Gagal memenangi trofi liga champion 2018 dan harus mengalami cidera bahu yang membuat Mo Salah harus absen dilaga perdana piala dunia 2018.

Yang terbaru, Mesir harus meratapi nasib menjadi juru kunci di group A piala dunia 2018 setelah takluk 2 kali berturut – turut. Rusia menjadi tim terakhir yang menaklukan Mesir dengan skor 3-1. Yang menarik dilaga kontra Rusia, Mesir menurunkan Mo Salah.

Ya Mo Salah mampu mencetak gol dilaga tersebut, namun gagal menyelamatkan Mesir dari kekalahan. Alhasil Mesir berpeluang besar angkat koper lebih awal dari Perhelatan Piala Dunia 2018.

Apa yang membuat Salah menjadi bersalah atas kegagalan 2 tim yang dibelanya ?

Salah yang tampil begitu impresif membuat tim yang dibelanya amat sangat bertumpu pada Salah, sehingga kehilangan keseimbangan sebagai satu kesatuan tim saat Salah tidak bermain atau dalam bahasa sederhanya ” SALAH CENTRIS”

Baik Liverpool maupun Mesir, amat bergantung pada performa dari Mo Salah, sedangkan Mo Salah tetaplah manusia biasa yang bisa tampil dibawah maupun cidera sekalipun.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here