INDEPENDEN.CO – Kabinet Indonesia Maju yang belum lama dilantik Presiden Joko Widodo, dianggap Forum Alumni Perguruan Tinggi se-Indonesia (Petisi), hanya basa-basi saja.

Bahkan, ada menteri yang baru dilantik bikin gaduh dan ada juga menteri yang “nyontek” program dari menteri sebelumnya.

“Kabinet sekarang sangat terlihat adanya pembagian kue dengan mengakomodir seluruh elemen yang punya potensi menggoyang Pemerintahan Jokowi tanpa pertimbangan Leadership, Competency dan Integrity,” ujar Ketua Petisi, Andi Razak Wawo.

Sehingga, menurut alumni Unhas ini, beberapa menteri yang ditunjuk bisa dikatakan sebagai Kabinet Basa Basi. “Untuk itu kabinet ini harus betul-betul diawasi kinerjanya setahun ke depan agar tidak terjadi pemborosan anggaran dan kekacauan program kerjanya,” ujarnya.

“Jika selama setahun programnya juga basa-basi saja, Jokowi sebagai Presiden yang punya hak prerogatif, segera reshuffle. Tidak pandang lagi menteri basa-basinya itu dari partai politik,” tuturnya.

Menteri Agama Fachrul Razi misalnya, Razak Wawo mengatakan, belum genap sebulan sudah bikin gaduh negara dengan urusan cadar dan celana cingkrang. Jadi gaduh masyarakat Indonesia, apalagi umat muslim yang merasa setiap saat selalu disinggung soal radikalisme.

“Mantan militer masuk ke ranah agama. Tidak masalah, tapi latar belakangnya harus dipertimbangkan. Jangan disodor jadi menteri karena menjadi pendukung kampanye Jokowi saat Capres. Lagi-lagi hanya basa-basi,” ujar Razak Waso.

Misalnya lagi Menteri Tenaga Kerja, Ida Fauziah. Razak Wawo mengatakan, saat dengar pendapat dengan DPR beberapa waktu lalu, berkesan menteri tidak punya program kerja. Bahkan di awal jadi menteri, sudah menghindar dengan media ketika ditanya rencana kerjanya.

“Saya trenyuh ketika ada berita menteri menghindar dengan media dan anggota dewan sudah langsung menuding Menaker dianggap tidak punya program. Bahkan dianggap “nyontek” menteri sebelumnya. Dan saya anggap wajar, karena mungkin menterinya tidak punya kapasitas yang terkait dengan ketenagakerjaan,” ujar Razak Wawo.

Padahal, sektor ketenagakerjaan harus jadi andalan negara ini untuk mengurangi penggangguran. Apalagi akan masuk inovasi Industri 4.0, karena peralatan pabrikasinya sudah menggunakan otomasi permesinannya yang dilengkapi computerize programming.

“Jadi, Menaker tidak sekedar tahunya buruh dan pabrik. Tapi bagaimana berpikir peningkatan SDM yang mesti siap modernisasi. Menaker jangan fokus mikirin nasib TKI, justru gagasan mengurangi orang tidak menjadi TKI,” ujar Razak Wawo.

Dari dua menteri itu atau juga menteri lainnya, kata Razak Wawo tersebut, maka bisa ditafsirkan memang menteri Jokowi jilid 2 yang dinamai Kabinet Indonesia Maju, cenderung tidak punya “modal” yang menguntungkan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here