INDEPENDEN.CO – Kisah sukses menjadi transmigran dikisahkan oleh Agus Riyanto yang menjadi nominator transmigran teladan tahun 2019.

Agus berasal dari Trenggalek dan ditempatkan di Tanjung buka SP 6, tahun 2014 silam. Dengan sukses yang disampaikan, diharapkan mampu memotivasi transmigran yang akan diberangkatkan.

Agus (36) menceritakan pengalamannya menjadi transmigran di UPT Tanjung Buka SP 6 Bulungan Kalimantan Utara pada tahun 2014. Sebelum memutuskan menjadi transmigran dia bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan tidak menentu, dan dari keluarga tidak mampu.

Satu ketika, pamannya seorang transmigran datang dan menceritakan bahwa di Kalimantan Utara peluang menjadi orang sukses masih besar, lapangan pekerjaan masih luas, mendengar cerita tersebut, Agus kemudian mendaftar ke dinas transmigrasi Kabupaten Trenggalek. Melalui pelatihan-pelatihan dan seleksi akhirnya ia berangkat ke Bulungan pada 2014.

Diakuinya, sampai di Kabupaten Bulungan, kenyataan tidak sesuai angannya. Gambaran dirinya sudah siap tanam, tapi ternyata pembangunannya belum selesai, atap seng rumah belum selesai, kiri kanan semak kayu, akses rumah belum ada jembatan.

“Jangan putus asa, bahwa pemerintah pasti membantu, butuh proses waktu dan anggran itu pasti,” kisahnya dihadapan para calon transmigran.

Pernyataan disampaikan di Pelabuhan Tanjung Perak hari itu. Setidaknya 100 Kepala Keluarga (298 jiwa) warga Provinsi Jawa Timur hendak menjemput harapan di tanah transmigrasi Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Lebih lanjut dia katakan, dengan tekad bulat dia berusaha bersabar dan memberikan pengarahan pada keluarganya. Kemudian dia mulai bekerja sampingan menjadi kuli angkut untuk bongkar muat jagung, disamping setiap bulan tetap menggarap lokasi lahan pertanian yang diberikan pemerintah. Setelah 6 bulan, lokasi satu hektar sudah bisa ditanami.

Dia menggarap lahan dengan menanam sayuran, padi, cabai dan lain-lain. Gabah berkelimpahan, dijual ke pasar dari petani Rp5ribu, jadi beras 10ribu.

Pesannya kalau menanam sayuran jangan terlalu dalam kecuali padi, karena tanah di sana sudah subur, penghasilan 1,5-2 kuwintal cabe tiap minggu, seminggu menghasilkan Rp 2-3juta terangnya.

Agus sampaikan ingin membuka lahan pekerjaan untuk teman-teman lainnya. Agar lebih kerasan warga di sana, warga dari Jawa Timur kan hobi karawitan, campursari, kudalumping, tinggal gamelan yang belum dimiliki.

“Terima kasih saya untuk pemerintah, kita bisa keluar dari kesusahan-kesusahan dengan ikut program transmigrasi ini,” ujarnya.

Kisah sukses transmigran lainnya yakni Choirul Anwar dari Kabupaten Banyuwangi sebagai Juara III Transmigran Teladan 2019 yang ditempatkan di UPT Lapokamata Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan pendapatan Rp 242.250.000,- per tahun,

Selain itu juga ada Fathur Aswan dari Kabupaten Situbondo sebagai Juara III Transmigran Teladan 2017 yang ditempatkan di UPT Anawua Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan pendapatan Rp 221.185.000,- per tahun,

Sukses terbesar yakni munaksan dari Pasuruan sebagai Juara I Transmigran Teladan 2016 yang ditempatkan di UPT Moppu Kabupaten Buol Provinsi Sulawesi Tengah, dengan pendapatan Rp 754.960.000,- per tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here