Buntut Suara Diduga Danny Pomanto Fitnah JK, Ratusan Massa ABMB Demo Polda Tuntut Tangkap Danny Pomanto

  • Whatsapp

MAKASSAR, INDEPENDEN.CO – Rekaman percakapan Calon Walikota Makassar Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto yang menyebut Jusuf Kalla adalah otak dibalik penangkapan Menteri KKP Edhy Prabowo oleh KPK yang dikomandoi penyidik seniornya Novel Baswedan, berbuntut panjang.

Ratusan massa mengatasnamakan Aliansi Bugis Makassar Bersatu (ABMB) melakukan aksi unjuk rasa di depan Mako Polda Sulsel, Sabtu (5/12/2020) sore. Para demonstran menuntut Kapolda Sulsel segera menangkap dan memenjarakan Danny Pomanto atas pernyataannya yang mengandung fitnah dan mencemarkan nama baik Jusuf Kalla.

Read More

“Pak JK sebagai tokoh Bugis Makassar telah dizolimi, difitnah dan dicemarkan nama baiknya oleh Danny Pomanto. Kami tidak terima. Kami sangat tersinggung. Tidak sepantasnya calon walikota itu menyinggung tokoh yang sangat kami hormati,” seru Nurcholis, selaku Jenderal lapangan.

Ratusan demonstran meminta Kapolda Sulsel segera menangkap dan memenjarakan walikota Makassar periode 2014-2019 itu.

“Ayo rapatkan barisan. Kami minta Kapolda Sulsel tangkap Danny. Kami tidak terima. Penjarakan tukang bohong. Segera proses secara hukum,” tegasnya.

Jika tuntunannya tersebut tidak ditindaklanjuti dalam waktu 1X24 jam, maka ABMB mengancam akan mengerahkan lebih banyak massa.

“Jika 1X24 jam Danny tidak ditangkap maka kami akan membawa massa lebih besar lagi,” ungkap Nurcholis.

Diketahui, pagi ini, lini massa dikejutkan dengan viralnya rekaman yang diduga suara Danny Pomanto yang menurut video tersebut berlokasi di Jalan Amirullah (kediaman Danny Pomanto di Makassar), pada 27 November 2020.

Ya, dari rekaman itu, suara percakapan yang diduga Danny Pomanto menyinggung sejumlah tokoh-tokoh besar di negeri ini. Sebut saja Wakil Presiden ke 10 dan 12 RI Jusuf Kalla (JK), Presiden Joko Widodo, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Mantan Menteri KKP Edhy Prabowo, penyidik senior KPK Novel Baswedan hingga pentolan FPI Habib Rizieq Shihab (HRS).

Percakapan itu awalnya menyinggung peristiwa tangkap tangan Menteri KKP Edhy Prabowo di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, oleh KPK yang dikomandoi Novel Baswedan.

Setelahnya, suara yang diduga Danny Pomanto itu menyimpulkan bahwa penangkapan yang dipimpin Novel Baswedan itu erat kaitannya dengan JK dan Anies Baswedan.

“Kalau urusannya Edhy Prabowo ini, kalau Novel (Baswedan) yang tangkap berarti JK (Jusuf Kalla) – Anies Baswedan. Maksudnya kontrolnya di JK,” katanya.

Percakapan itu mengalir lebih dalam hingga menyinggung para penguasa negeri ini. Menurut suara yang diduga Danny, JK secara tersirat telah menyerang Prabowo. Dan membenturkannya dengan Presiden Jokowi. Pasalnya, Prabowo yang merupakan Ketum Gerindra dan Edhy sebagai Waketum Gerindra disebut telah mengkhianati kepercayaan presiden.

“Artinya dia sudah menyerang Prabowo. Yang kedua nanti seolah-olah Pak Jokowi yang suruh, akhirnya Prabowo dan Jokowi baku tabrak. Ini kan politik,” tuturnya lagi.

Menurutnya, dengan ramainya pemberitaan terkait penangkapan Edhy selepas lawatannya dari Amerika dalam kasus suap benih lobster, isu bahwa JK merupakan aktor di balik kepulangan Rizieq Shihab pun perlahan menguap.

“Kemudian mengalihkan (isu) Habib Rizieq. Ini mau digeser JK dan Habib Rizieq. Karena JK yang paling diuntungkan dengan tertangkapnya Edhy Prabowo. Coba siapa yang paling diuntungkan. JK lagi dihantam, beralih ke Edhy Prabowo kan,” ujar rekaman yang begitu identik dengan suara Danny Pomanto itu.

“Kemudian Prabowo yang turun karena dianggap bahwa korupsi pale disini, calon presiden to. Berarti Anies dan JK yang diuntungkan. Kemudian (Prabowo) mengkhianati Jokowi. Jadi yang paling untung ini JK. Begitu memang chaplin. Jago memang mainnya. Tapi kalau kita hapal, apa yang dia mau main ini,” tegasnya kemudian.

Di akhir video, Danny kembali menyerukan kepada seluruh masyarakat, jangan pilih tukang fitnah, jangan pilih omong kosong. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *